Hfnrahman’s Weblog

Arahkan Visi, Jalankan Misi, Raihlah Cita-cita!!!

Karakteristik Setiap Teleskop

Teleskop adalah pengumpul cahaya. Tugas utamanya adalah membentuk bayangan obyek secara optis seterang mungkin dengan cara difokuskan (dikumpulkan). Tugas ini dikerjakan oleh elemen optis utama, disebut “obyektif” di dalam tabung optis teleskop. Obyektif dapat berupa cermin dalam teleskop pemantul (reflektor) dan lensa utama dalam teleskop pembias (refraktor). Bayangan yang terbentuk oleh obyektif kemudian diperbesar oleh komponen yang dapat diganti-ganti yang disebut lensa okuler (eyepiece). Dengan menggunakan lensa okuler yang berbeda, kita dapat mengubah perbesaran dan bidang pandang dari apa yang kita lihat melalui teleskop.

Untuk membandingkan teleskop, terdapat sejumlah karakteristik-karakteristik yang dapat mengidentifikasi perbedaan-perbedaannya. Yang paling umum adalah: kekuatan mengumpulkan cahaya, batasan magnitud, resolusi, dan pembesaran. Apa pun jenis desain optik yang kita bandingkan, karakteristik-karakteristik ini memberikan informasi bernilai yang akan membantu kita menentukan apa yang kita dapat harapkan melihat melalui sebuah teleskop.

Kekuatan Mengumpulkan Cahaya. Karakteristik yang paling penting dari sebuah teleskop adalah kemampuannya mengumpulkan cahaya. Kemampuan mengumpulkan cahaya dari sebuah teleskop ditentukan oleh diameter obyektif (aperture). Semakin besar diameter obyektif, semakin banyak cahaya yang dikumpulkannya. Memandang bintang, nebula, atau galaksi yang terpenting adalah sebanyak mungkin cahaya yang dikumpulkan. Obyek-obyek langit yang lebih redup mungkin tidak terlihat oleh teleskop-teleskop berdiameter lebih kecil. Tanpa cahaya yang cukup, obyek-obyek buram tidak dapat terlihat. Seberapa besar pun mereka diperbesar.

Hubungan antara kekuatan mengumpulkan cahaya sebuah teleskop dan diameter obyektif tidak berbanding lurus. Semakin besar diameter obyektif, jumlah cahaya yang dikumpulkan bertambah seiring dengan luasnya diameter. Sehingga jika kita melipatgandakan diameter obyektif, kemampuannya mengumpulkan cahaya bertambah empat kali!

Batasan Magnitud. Para astronom menggunakan sebuah sistem “magnitud” untuk mengindikasi kecerlangan obyek stellar. Sebuah obyek dikatakan memiliki angka magnitud tertentu dengan 0 (bintang Vega) sebagai dasar. Semakin besar angka magnitud, semakin redup obyek tersebut. Setiap satu magnitud, perbedaan kecerlangannya adalah faktor 2,51 kali. Untuk contoh, sebuah bintang bermagnitud 5 adalah 100 kali lebih redup dari Vega, bintang bermagnitud nol (= 2,515). Bintang paling redup yang dapat kita lihat dengan mata adalah bermagnitud enam (dari langit-langit gelap) mengingat bintang paling terang bermagnitud nol (atau bias angka negatif).

Bintang paling redup yang dapat kamu lihat dengan teleskop (dalam kondisi yang sangat baik) disebut sebagai “batasan magnitud”. Batasan magnitud sebuah teleskop secara langsung berhubungan dengan diameter obyektif. Semakin besar membuat kita dapat melihat obyek-obyek yang lebih redup. Kondisi atmosfer dan ketajaman penglihatan pengamat akan sering mengurangi batasan magnitud.

Resolusi. Kemampuan sebuah teleskop memberikan detail yang baik. Resolusi yang lebih tinggi membuat kita melihat lebih detail permukaan sebuah planet atau memisahkan bintang-bintang yang berdekatan. Resolusi diukur dalam satuan busur derajat (degrees), busur menit (arcminutes), dan busur detik (arcseconds). Oleh karena itu, sesuatu yang rentangnya satu busur derajat sama dengan 60 arcminutes, atau 3600 arcseconds (60 x 60). Jadi satu busur detik adalah sangat kecil – hanya 1/3600 derajat.

Pembesaran. Adalah sebuah fungsi dari panjang fokal obyektif dan lensa okuler. Panjang fokal adalah jarak dari lensa atau cermin ke titik di mana sebuah bayangan terbentuk, lensa okuler memperbesar bayangan yang dibentuk oleh obyektif.

Perbesaran yang paling tinggi yang masih dapat kita capai dengan teleskop sekali lagi ditentukan oleh ukuran dan kemampuan mengumpulkan cahaya dari obyektif. Batasan praktisnya sekitar 60 kali diameter obyektif dalam inci. Sehingga sebuah teleskop 8 inci tidak seharusnya diharapkan menghasilkan bayangan-bayangan yang mana kombinasi teleskop/lensa okuler menghasilkan perbesaran lebih dari 480x. Dalam prakternya, perbesaran-perbesaran yang bisa digunakan akan sering dikurangi oleh kondisi atmosfer.

Banyak obyek-obyek astronomi yang relatif besar namun redup, perbesaran yang sesuai dan obyektif berdiameter lebih besar untuk mengumpulkan cahaya adalah gabungan terbaik untuk melihat lebih banyak obyek-obyek langit. Melihat bintang-bintang, perbesaran tinggi tidak mampu memperbesar ukuran bayangan karena mereka selalu terlihat seperti titik-titik (bintang-bintang begitu jauh jaraknya, mereka tidak dapat menjadi sesuatu yang lebih dari sebuah titik).

Untuk menghitung pembesaran:

Pembesaran = panjang fokal obyektif (mm) / panjang fokal lensa okuler (mm)

Sehingga sebuah teleskop 8 inci dengan panjang fokal 2000 mm menggunakan lensa okuler 25 mm

Pembesaran = 2000 mm / 25 mm = 80 kali dari mata

16 Mei, 2008 - Ditulis oleh hfnrahman | Astronomi | , , , , , , , , | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar